Politik dimasa kecilku

June 27th, 2007 by sella-cute

Politik dimasa kecilku

Berbelas tahun lalu, saya adalah siswa SD kelas 3 yang montok dan lucu dengan model rambut panjang dan berponi lurus. Pelajaran yang lumayan mengerikan bagi saya yang tidak suka menghafal ini adalah PPKn alias Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Sesudah dihujam oleh penambahan, pengurangan, dan perkalian, saya ingat guru saya berpesan untuk menghafalkan butir butir Pancasila. Menghafal butir-butir Pancasila yang 36 butir itu, membuat saya juga mengeluarkan butir-butir keringat. Bukan hanya karena bahasa di butir-butir itu yang berbunga-bunga merekah indah mewangi, tapi juga karena membayangkan bakalan didamprat oleh guru saya yang gualaknya minta ampun kalau saya sampai tidak hafal. (Kalo Ibu baca, maaf Bu, tapi beneran ibu memang galak banget…, tapi tanpa ibu, saya pasti gak bisa seperti sekarang ini, jadi perkasa…). Jadilah Mama saya dengan rajin dan sabarnya membuat jembatan keledai, supaya saya bisa menghafalkan isinya, dan melatih saya setiap pulang sekolah (Thanks, Mom! You’re the best!). Setelah semua anak dipaksa menghafal butir-butir itu, apakah kita menjadi bermoral ? Hmm nggak tau juga tuh. Yang pasti saat itu tetap saja ada tawuran berkepanjangan (persatuan gitu ?), agama tertentu tetap ditindas kalau mau beribadah (toleransi gitu?), dan rampok serta tukang palak tetap merajalela (menghargai gitu ?).

Saya ingat, di kelas 3 SD juga, mata pelajaran IPS alias Ilmu Pengetahuan Sosial (atau Sok Sial..bagi saya sama saja) mulai diperkenalkan di bangku sekolah. Apakah yang terkandung dalam IPS? Marilah kita menghafalkan nama-nama seluruh Menteri Kabinet Pembangunan! Beruntunglah saya pada zaman itu, menteri-menteri tidak terlalu sering diganti seperti sekarang ini. Biasanya saya minta ke Papa untuk dibelikan daftar nama menteri diasongan, dan Mama saya melatih saya menghafalkan seperti sedang main kuis Siapa Dia atau Jeopardy. “Ayo, ini gambar siapa, lalu jabatannya apa ?”, begitu kata Mama. Dan enaknya lagi, sesudah pemilu pun masih ada nama-nama menteri yang tetap bertahan. Asyik kan ? (Hallo Pak Moerdiono dan Pak Harmoko, apa kabar ?). Tapi terus terang, saya sih kurang tau apakah anak-anak sekarang masih tetep menghafal nama-nama menteri. Kalau masih, statement saya sama kayak yang di atas: “ Cape deeeeee ….”

Ada juga pertanyaan-pertanyaan yang cukup sering ditanyakan di dalam pelajaran PMP atau IPS, dan jawabannya berkisar antara: Musyawarah mufakat, hati nurani yang luhur, menjunjung tinggi asas persatuan dan kesatuan, demi keadilan bersama di dalam masyarakat, dan lain-lainnya yang tetep saja bertele-tele. Bayangin, saya dulu bisa sampai ikut lomba P4 yang disponsori Depdikbud (sekarang Depdiknas ya ?), padahal moral saya biasa-biasa aja. Masih suka berantem, sirik-sirikan, dan ledek-ledekan à Namanya juga anak-anak (Hehehehe nati ada yg protes kalo aku ngomong gini, napa anak anak yg disalahin?? ato di kambing hitamkan..), ya gak ? Kalau saya ditanya sekarang, pasti saya juga nggak bisa menjawab. Jadi kesimpulannya, kalau dalam soal cap cip cup politik, kok kayaknya lebih pinter waktu saya kecil dibandingkan dengan sekarang. Jawaban saya di lomba P4 agak-agak mirip kok dengan para politikus. Paling beda-beda tipis lah.

Yang lebih parah lagi sih, di SD itu kita juga diperkenalkan dengan pelajaran PSPB alias: Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Oke oke, saya bisa terima kalau perjuangan bangsa ini memang dipengaruhi oleh semangat Pangeran Diponegoro, Sultan Imam Bonjol, Sultan Agung, dan para Proklamator. Tetapi kalau sudah sampai harus menghafalkan nama Mami Papinya Presiden (saat itu), dan dicap tulalit saat ulangan cuma gara-gara nggak hafal nama ortunya, bener-bener deh, keterlaluan. Saat itu, saya yang masih polos dan otaknya masih menyerap seperti spons, juga dijejali oleh peristiwa kehebatan sang Presiden (saat itu) yang membuat saya (dan saya percaya anak-anak lainnya juga) mengidolakan dia. Mengingat-ingat itu, aduh, kok saya naif (bukan yang nyanyi Mobil Balap) banget gitu.

Saya ingin punya usul, daripada anak-anak SD diminta untuk menghafal segala macam undang-undang, peraturan, dan butir-butir lainnya sampai ke titik komanya, apa tidak lebih baik, kalau anak-anak diajarkan untuk bersikap sopan santun kepada orang tua dan teman-teman, diajarkan untuk merawat dan menjaga kebersihan lingkungan, dan diajarkan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sekarang ini, banyak sekali saya melihat anak-anak kecil sangat kurang ajar terhadap orang tuanya, padahal di sekolah mendapatkan pendidikan moral dari gurunya. Terus terang, saya tidak mengerti, jika memang pendidikan moral dan politik di usia SD betul-betul diterapkan, mengapa Edo , siswa SD itu dibunuh secara kejam oleh teman-temannya sendiri? Apakah mungkin justru karena anak-anak tersiksa diminta menghafalkan segala macam informasi yang belum waktunya dijejalkan kepada anak seusia mereka, membuat mereka menganggap pendidikan di sekolah sebagai beban, lalu karena stress menjadikan temannya sebagai bulan-bulanan ? Ah, pusing saya…..(ayo kita mulai rubah pemikiran salah selama ini, gimana kalo kita biarkan ANAK ANAK BERBICARA–kutipan istilah a andi)….

Balik lagi ke soal Naif tadi. Ada satu lagu karya mereka yang saya suka, yang menggambarkan kebertele-telean yang sangat tidak perlu, tapi yang ini asyik banget untuk didengarkan, nggak kayak butir butir Pancasila… Ayo nyanyi bareng!

“Diaaaaa…. adalah pusaka sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia…”

Udah ah…

-Loph Jeans

June 18th, 2007 by sella-cute

Kenapa kamu pakai rok? Kenapa kamu pakai jeans? Mengenakan rok, paha selalu digelitik dari bawah. Seolah diingatkan, kau sebetulnya bugil tetapi dikurung serba lepas. Jadi, selalu harus berhati-hati, tidak bebas meloncat atau berlari. Apalagi salto kepala di bawah kaki di atas. Setiap saat kau diperingatkan oleh rok agar waspada: karena kamu ‘wanita’, tidak pantas begini, tidak patut begitu. Seperti tawanan.

Jeans lain. Bahan tebal itu bukannya menutupi kulitmu, tetapi menjadi kulit keduamu. Tidak takut jika tiduran kaki di atas atau duduk mengangkang; biar saja dilihat, tetapi sudah hilanglah rasa takutmu. Sebenarnya kau telanjang juga karena jeans ketat melekat. Tetapi tidak bugil.

Bugil artinya rendah martabat. Telanjang mengacu kepada seni bentuk, tubuh indah, dan jiwa yang berdaulat. Mengacu kepada kegembiraan penuh syukur atas karunia keindahan anggota badan yang merdeka lepas tak terkendala untuk berfungsi  seperti yang diharapkan oleh tugasnya yang wajar.

Kau tidak lagi digelitik angin kurang ajar. Tidak selalu kena semprit peringatan macam-macam adat dan kepantasan. Tetapi kau tangkas langsung angin kekurangajaran dengan kulit tebal. Bahkan kau tantang dalam ekspresi puan yang menguasai situasi.

Busana yang aslinya berasal dari padang-padang rumput para cowboy memancarkan suatu kebanggaan khas yang membuat kepala tegak dan sosok tegar, seolah berkata”ya mau apa? Memang aku perempuan, puan dan empu, pembela kehidupan, penggendong si lemah! Ya, aku berkacak pinggang dan jari-jari mengepal, jangan coba main-main, kusepak anumu sampai kau menjerit-jerit kesakitan! Ya, aku punya harga, dan tinggi hargaku! Bukan kecantikan modalku! Itu yang kau maui.  Aku bukan bahan gerabah yang dapat kau bentuk menurut kehendakmu! Ya, aku ada! Apa? Kau sebut ini tidak pantas itu tidak sesuai adat? Aku, ya aku yang menentukan sendiri  mana pantas, mana adat! Bukan kau! Dan bukan ibuku sekalipun!

Ziarah ke makam pelacur

April 10th, 2007 by sella-cute

Ziarah ke Makam Pelacur Ziarah ke Makam Pelacur Oleh : DHB Wicaksono

… Malam itu, Jockil dengan jama’ah pelacur kelas tinggi sedang berbincang di hotel berbintang lima. Di bulan suci, apa yang mereka inginkan? Ya, mereka pasti juga ingin hari raya, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh. Di antara mereka banyak yang libur melacur, hanya minta kiriman uang lewat ATM para pelanggannya. Ada pula yang masih ngebut mencari "tumpangan" layaknya angkot. Ada pula yang sudah berjanji, selepas lebaran, dunia kelam akan ditutup selamanya dalam hidupnya. Macam-macamlah. Jockil bercerita banyak tentang sejarah pelacur­an di dunia, sampai profil-profil pelacur hingga se­orang pelacur yang menjadi permaisuri raja, dan sempat menyelamatkan negerinya. Tak kurang pula bagaimana Jockil mengisahkan tobatnya para pelacur dan sejumlah pelacur yang memondokkan anaknya di pesantren, dari hasil pelacuran. "Malam ini kita akan lanjutkan ziarah bersama ke sebuah makam seorang perempuan mulia di mata Allah tapi hina di mata manusia…." "Apakah dia seorang penjahat? Koruptor? Kanibal? Atau…? Seperti kita-kita ini, Mas?" tanya salah satu hostes di hotel itu. "Ya, Anda tebak sendiri. Kita ke sana, kita tahlil, dan berdoa bersama?" Para pelacur itu sepertinya sudah mengerti siapa yang akan diziarahi itu. Wajah-wajah mereka mengekspresikan pancaran yang beragam. Ada yang kelihatan pucat pasi, ada pula yang gembira, ada pula yang menunduk, ada pula yang langsung menitikkan air matanya. "Bagaimana kisahnya Mas Jockil, kok sampai dia begitu mulia di depan Allah? Apakah kita-kita ini yang sangat kotor juga bisa?" Mata Jockil menerawang jauh. Lalu ia kisahkan tentang kehidupan pelacur itu. Ia adalah seorang hostes yang sangat cantik dan sangat laris. Semua orang di Jakarta, yang hobi berselingkuh dengan dunia perempuan tahu namanya. Begitu jua orang-orang di kampungnya tahu profesinya. Makanya, ketika tiba-tiba meninggal dunia, hampir tak ada yang mau menguburnya. Sanak saudaranya juga tidak jelas. Akhirnya pelacur ini dikubur saja asal-asalan, di kuburan dekat sungai, yang tempatnya jauh dari kuburan umum. Masyarakat merasa jijik, dan sekaligus menjadikan monumen, agar dikenang, bahwa seorang pelacur kalau mati tidak akan dikubur di pemakaman umum. Mungkin masyarakat mau menghukum pelacur ini. Sepuluh tahun kemudian, tiba-tiba ada proyek pelebaran sungai. Tentu kuburan pelacur ini akan digaruk begitu saja. Benar, ketika kuburan pelacur itu dibuldoser, tiba-tiba buldosernya macet, dan berulang kali demikian. Akhirnya seorang kiai di kampung itu datang bersama masyarakat untuk mengeduk kuburan itu. Apa yang terjadi? Mereka semua terkejut setengah mati ketika melihat mayat pelacur sepuluh tahun yang lalu masih utuh, kafan­nya masih bersih, kulitnya masih mulus bahkan tercium semerbak bau harum. Mereka terhenyak, dan hampir semua yang melihat di sana menangis, memohon ampun kepada Allah Azza Wa Jalla atas dosa dan penghinaan yang mereka lakukan selama itu. Akhirnya ia dipindahkan dan dikuburkan di makam umum, di­hormati layaknya yang lain. Jockil terdiam sejenak hampir tersedak suara­nya. Sementara para pelacur lainnya itu, sudah saling berpelukan menahan tangis atas kisah tragis itu. "Apa yang dilakukannya selama jadi pelacur, Mas?" "Saya tidak tahu. Mungkin hatinya tidak per­nah melacur, jiwanya untuk Allah! Dan setiap dia melacur ia hanya ingat Allah, bahkan menjerit-jerit. Saya dengar dalam dunia waktu yang saya tembus, melihat dia menjelang meninggalnya menangis sampai kering air matanya, dan menjerit sampai pingsan atas pertobatannya, sampai wafatnya… Allah mengampuni segala dosanya yang berlalu. Saya merasa mendengarkan munajatnya begini: "Ya Allah, Tuhanku, Engkau Maha Tahu aku adalah hamba yang Engkau Ciptakan, dan Engkau pun Tahu aku seperti ini tidak lepas dari TakdirMu. Kini aku hanya ingin kembali kepadaMu, setelah seluruh isi makhlukMu tidak ada yang menjadi harapanku. Kalau seluruh makhlukMu saja mencaciku, menghinaku, meng­hempaskanku, lalu Engkau pun juga hendak membuangku, lalu siapa lagi yang bakal menerima hamba yang hina ini ya Tuhaaan… Padahal Engkaulah satu-­satunya harapanku…karena itu terimalah aku di PangkuanMu, ya Allah…" Hotel berbintang itu seakan-akan mau roboh, mendengar kisah Jockil, karena setelah kisah itu diuraikan, berurai pula air mata dari jeritan jama’ah pelacur itu.

Ultah

April 8th, 2007 by sella-cute

Hai pagi cintaku…

Hai Hari sayangku…

Tak terasa 20 tahun berjalan

Tak disangka ratusan hari yang terlewati

Utarakan sedih dan senang…

Tangis beku terdiam…

Derai tawa bahagia….

Atas gejolak hati yang ada…

Hai malam dewiku..

Hai siang  cahyaku….

20 lilin terpasang indah…

akankah kedewasaan datang???

Akankah hari yang akan datang berarti????

Ya rabbbbb….

Jika sisa umur yang kau berikan..

membuat ku jauh dari cahyaMU…

Tolong, ambil sisa hidupku…

Jika sisa umur yang kau berikan…

membuat kecintaanku padaMu bertambah..

Tolong…beri aku hidupMu ya rabbbb…

20 lilin kebahagiaan…

Teramat banyak keingian dan harapan teratas nama CINTA..

Ya rabbbb….

Hati ini ikhlas atas semua jalan yang kaupilih…

Hati ini rela menerima semua dengan lapang dada

Terima kasih atas semua tulus cintaMu…

Terima kasih atas semua kasih sayangMu….

—20 lilin tanda kedewasaan…semoga menjadi terwujud…semoga–

April 10′07

CeRita Teman…

April 4th, 2007 by sella-cute

Temanku pernah bercerita:

Di sudut emper sebuah toko kelontong, di antara luapan sinar putih lampu neon, di bawah siraman dan guyuran kemilau kuning lampu merkuri, di sela-sela kelebat menyilaukan lampu-lampu kendaraan yang hilir-mudik menerjang gelapnya malam, seorang ibu mengiba menidurkan seorang anak kecil, anaknya. Sosok ibu itu memiliki garis kecantikan di masa lalu kendatipun tertutup oleh tebalnya debu zaman yang telah ia lalui. Angin malam adalah selimut dingin yang mampu menggeraikan rambut gimbalnya, kotor dan kumal. Tangannya telah menelusuri jeruji cobaan hidup membelai lembut kepala anak kecil itu. Sisa pakaian yang melekat di tubuhnya akan mengingatkanmu kepada perasaan sebagai manusia. Benar, perasaan antara manusia dengan bukan manusia. Sobekan pada pakaian lusuhnya menciptakan luka-luka yang ia alami selama hidupnya. Kekotorannya melukiskan gambar kering tanpa air bening kehidupan yang dinikmati oleh manusia secara wajar. Puluhan tahun ia telah melewati masa, menuruni lembah, mendaki bukit, dan hasilnya adalah sebuah harapan yang sirna. Ia duduk bersimpuh di atas lantai dekil toko kelomtong milik Engko Chen. Dingin. Ia seorang ibu muda gelandangan bersama anaknya. ” Mak..Llllaparrr…!” Keluh si anak. Badan mungilnya tergeletak tidak terawat sama sekali. Kaki kecil, tangan mungil mengepal lemas, kepala pelontos, badan terbalut daki dekil, kedip matanya sayu tak kuat meski sekedar menatap lampu redup. Di atas hamparan kertas koran. Ah… anak-anakmu sudah barang tentu tidak akan seperti dirinya. Anak-anakmu tidak akan pernah tergeletak di emper toko kelontong, anak-anakmu tidak akan meringis atau mengeluh menahan perihnya lapar, anak-anakmu tidak akan dielus dengan ratapan dan ibaan, akui saja!!!

Ibu muda gelandangan hanya bisa melongo, bergeming. Telah kehabisan cara untuk membujuk dan meredakan keluhan jujur anaknya. Lapar adalah kejujuran, tidak pernah berbohong. Lapar tidak memerlukan iming-iming atau ocehan. Lapar membutuhkan sekerat roti, segenggam nasi putih hangat mengepul, sebungkus kerupuk, segelas air sejuk, seseondok susu bubuk, dan setumpuk gizi. Apa yang kau butuhkan ketika lapar, logika sederhana sekali pun akan langsung menjawab: MAKANAN! Apa yang ada dalam pikiranmu ketika lapar? Bualan kesejarteraan? Obral janji akan datangnya masa kejayaan?? Segudang ajakan untuk tetap berharapan akan datanganya kemakmuran??? Bukan..bukan itu, karena kata-kata apalagi ocehan bukan jenis makanan!!!

Ibu muda gelandangan telah banyak bercerita tentang kessabaran. Ia telah berbisik tentang harapan di masa depan kepada si anak. Tetapi..sekali lagi..lapar adalah kejujuran, kejujuran yang tidak akan pernah terputus hanya karena mendengar nada optimisme yang terkesan dipaksakan. Kejujuran yang keluar dari lubuk hati kamusia normal, bukankah gelandangan juga manusia normal? Malam semakin larut pekat. Merayap dengan kaki-kakinya teramat cepat. Kota seakan tak pernah mati. Aroma -aroma makanan lezat seperti; nasi goreng, martabak telur, mie tek-tek, hamburger, pizza, bandros kelapa, hanya mampir dan mencekik hidung mereka lalu terbang melayang..tersapu angin. Lalu-lalang orang-orang bukan hal yang tepat untuk menjadi bahan pertimbangan bahwa mereka akan melirik pada dua sosok itu. Orang-orang di kota itu, tak pernah merasa akan mati, sibuk dengan urusan masing-masing. Berbagai reklame beruba bilboard raksasa halus dan dibuat dengan biaya sangat mahal tentu saja, meramaikan angkasa.

Tatap nanar ibu itu menghampiri lukisan-lukisan dan gambar makanan yang terpampang di papan reklame. Ia menelan ludahnya seketika, dalam dan getir ketika menyadari bahwa papan reklame bukan jenis makanan yang bisa disantap. ” MMaak..Llllapar..rr!” erang anaknya semakin parau terputus. ” Tenang..nak!” Ibu muda gelandangan ingin bercerita dongeng sebelum tidur, hanya..ia sadar sia-sia belaka. Sekali lagi, lapar adalah kejujuran. Tidak akan terpupus oleh dongengan. Cukup untuk dirnya saja ia membayangkan buah-buah segar di surga. Angin malm menerbangkan debu-debu jalanan. Ia bersandar pada dinding toko kelontong, tangannya masih mengelus lembut kepala pelontos anaknya. ” L…a..p..a…r..r!” Disekanya air mata yang menganak sungai di pipi berdakinya. Ia baringkan kepala anaknya di pahanya, dielus punggungnya mesra sekali.

Logika paling sederhana, apalagi logika orang pintar sepertimu tak mungkin akan menerima fakta ini. Seorang ibu muda gelandangan berusaha menenangkan anaknya yang dirundung lapar, ketika kau sedang asyik menonton televisi, ketika kau bersama keluarga sedang menghadapi berbagai aneka makanan mewah meriah di atas meja makan atau di restoran, ketika kau sedang mengunyah makanan dan memadati perut buncitmu, ketika kau sedang berbaring di kasur empuk hangat dan nyaman, ketika kau sedang memeluk anak-anakmu, ketika kau sedang menghitung angka-angka di atas sepuluh digit, ketika kau sedang mengutak-atik data keuangan yang akan mendongkrak taraf hidupmu, ketika kau sedang memilah -memilih aneka rupa pakaian yang akan kau pamerkan kepada orang disekelilingmu, bisa jadi ketika kau sedang pesta pora menghambur-hamburkan uang di meja perjudian dan taruhan!

Seorang lelaki kasar menghampiri mereka. Cara berjalannya licik bukan main, wajah dihiasi kumis merongos lebat kurang terawat, jarang mandi pun bisa jadi, terlukis dari barisan giginya yang menguning, hidung melesak pesek dipadu oleh aroma alkohol yang keluar mencekik nafas dirinya sekalipun, dagunya sederhana. Tiba-tiba tangannya meluncur tak terkendali memegang dagu ibu muda gelandangan, atau mungkin memang sudah terbiasa? ” Bagaimana malam ini!?” Ucapnya, nadanya terdengar berat. Ibu muda gelandangan berusaha bangkit setelah menggeletakan anaknya di atas hamparan koran terlebih dahulu. ” Baik!” Sahutnya terpaksa. Ia menoleh sebentar ke arah anaknya, ” Tunggu nak, ibu akan memcari makanan untukmu!” Tubuh anaknya masih berkelejatan ketika ibu muda gelandangan bersama lelaki licik itu menyelinap di rapatnya lorong toko kemudian masuk ke semak belukar.

Anaknya merintih semakin pelan, antara lapar dan mengantuk. Mata kecilnya menyipit menatap angkasa. Langit memang hitam malam itu tanpa gemintang karena bias oleh binar lampu-lampu kota. Matanya tampak basah. Halimun mulai mendekap tubuhnya, dingin menyiksa bagai cambuk tak pernah berhenti mendera dan menyayat lapisan kulit luarnya. Suhu menurun tanpa kompromi, semakin malam… dan ia pun tergeletak dalam keperihan lapar. Tidur. Ia, bisa jadi memimpikan gelas-gelas kristal, buah ranum, mangga, air segar, dan tentu saja..tidak ingin ia mengakhiri mimpi syurgawinya.. Hingga dini hari, ibunya belum muncul.

###

Pagi menyeruak, tirai langit terbuka lebar oleh cahaya, membuyarkan malam dan redupnya. Sisa-sisa dingin masih menggumpal di ujung malam, namun jalanan telah penuh sesak oleh orang-orang bertransaksi. Beberapa toko mulai buka. pasar ramai sekali sejak dini hari, memang. Kau tidak akan percaya, di kota itu orang-orang berjualan sampai meluber ke tengah jalan. Satu jam saja… berbagai sampai telah meramaikan sekitar. Juru potret amatir sekalipun akan mampu membidik lingkungan kotor betul pada hasil jepretannya.

Tubuh mungil tersembul di antara kerumunan orang. Kedip matanya masih menyisakan rasa kantuk berlebihan, belum puas dengan mimpi-mimpinya. Ia mengelilingkan pandangan, matanya mencari-cari makanan di atas jalan di antara semerbaknya berbagai sampah. Ia menapaki jalanan tanpa alas kaki dengan sisa-sisa kekuatannya. Jongkok mengambil makanan yang terbuang, lalu melahapnya seketika. Jelas sekali itu bukan merupakan pertimbangan akal sehat. Ketika anak-anakmu masih pulas dalam pelukan ibunya, masih menikmati selimut kasih, anak itu telah berjuang sendirian mencari sekerat makanan untuk membunuh rasa lapar yang ia tahan semalaman. Ia telah menapaki jalan berdebu dengan kaki telanjang ketika anak-anakmu masih mengulat sambil mendekap bantal-guling, ingat itu!!!!

Kerumunan orang-orang berhamburan menuju satu titik, di belakang pertokoan di dalam semak belukar. Seseorang berteriak: ADA MAYAT!!! geger sekali pagi itu. Ya, sosok tubuh kaku membujur di dalam semak perdu, percikan darah meramaikan tubuhnya, wajahnya melesak di pukul batu, remuk tulang hidungnya. Orang-orang tidak menjamahnya, menyentuhnya pun enggan.

” Pasti diperkosa dulu!” Terka seseorang.

” Biadab!!!”

” Kapan akan berakhirnya kekerasan di kota ini?”

” Hhhh…!”

” Kita panggil POLISI!” ” Siapa peduli???!!” Seseorang menutup tubuh kaku itu dengan selembar kertas koran, lalu mereka meninggalkannya begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa di tempat itu. Mereka bubar dengan sendirinya, kembali kepada urusannya masing-masing. Tubuh kaku dibiarkan tergeletak, toh suatu saat juga akan membusuk dengan sendirnya, begitu pikir mereka, atau…POLISI akan datang segera… SIAPA PEDULI!? Lebih baik mengurus diri sendiri saja! Anak kecil itu masih tetap mencari-cari. Menapaki jalan tak tentu arah.

###

” Mustahil..ada manusia yang senang makan triplek atau kaleng!” Kata menejer Danda kepada beberapa anak buahnya, para petugas keamanan.

” Di zaman sekarang, tidak ada yang tidak mungkin, pak!” Menejer Danda mengernyitkan kening lebarnya. terlihat serius, wajah semakin dingin dan kecut, mengepal tinju kuat-kuat, bulat! ” Terserah!!! Yang aku inginkan adalah kerja kalian, bukan ocehan. Kalian lihat!!! sudah lima billboard reklame bolong-bolong. Apa mungkin itu digerogoti oleh manusia? Atau..setan apa yang senang mengunyah kaleng, heh! Pakai otak dong, ah!?” Ia melotot,” Kalian kerja yang benar malam ini!” ” Ya..pak!” Malam bukan merupakan halangan bagi orang-orang untuk terus beraktivitas, seperti tak pernah mengenal mati , seakan hidup selamanya.

Tiga orang petugas keamanan berjaga-jaga, mengamankan satu billboard reklame makanan yang tersisa tanpa cacat bolong. Pentungan dikepal erat. Bergantian lalu-lalang sekitar papan reklame. Asap rokok keluar masuk dari mulut mereka silih berganti memang seperti kereta malam. Aroma kopi tercium kuat. Menebar. Ketika malam terus menggelayut dan merayap semakin dingin terdengar alunan lagu dangdut dari radio kecil yang mereka letakkan di bawah billboard reklame. begadang jangan begadang kalau tiada artinya begadang boleh sajaaaaaa… heii..kalau ada perlunya. Kemudian salah seorang dari mereka memindahkan gelombang radio. Terengarlah alunan lagu tradisional: bubuy bulan… bubuy bulan sangray bentang panon poe…panon poe disasate Mereka membiarkan gelombang itu, tidak mengusiknya, bahkan secara bersama-sama serempak bernyanyi: unggal bulan..unggal bulan abdi teang unggal poe..unggal poe oge hade.. Tengah malam sangat dingin. Para petugas masih berjaga, tak mereka temui gelagat mencurigakan. Dini hari menjelang subuh, kantuk merambat cepat, mereka tetap melotot, hingga pagi menjelang, sampai matahari muncul. Dan papan reklame itu? Bolong lagi!!! ” Percuma setiap bulan kalian digaji jika tidak becus mengamankan satu billboard reklame saja, bodoh!” Semprot menejer Danda. Bengis. ” Aneh memang pak, percaya boleh..tidak percaya juga tidak apa-apa!” ” Kalian saya pecat!” Dan mereka berhenti bekerja hari itu juga.

Begitulah kekerasan itu terus berlangsung, menggunting lembaran-lembaran harapan, menggergaji pohon-pohon cita, menebar kayu-kayu asa, menyisit kulit ari keinginan, setiap orang kecil yang selalu diburu. Dan, sejak saat itu, billboard-billboard reklame berukuran besar yang menawarkan makanan dan minuman bolong satu persatu di kota itu. Sedangkan, orang-orang sering melihat seorang anak kecil keluar dari kolong jembatan, muncul menggendong sebuah karung berisi serpihan-serpihan kaleng dan triplek yang jelas bukan jenis makanan dan minuman sambil merengek dan mencari-cari ” Ibu…..ibu…ibu….!” Ketika malam telah pekat…..

^—-^

October 16th, 2006 by sella-cute

Emmmmm..gimana ya kalo status berubah jadi Married……

Kawin muda….apa pendapat kalian???????….uput mahhhh yukkkkk

mauuuuuuuuuu

MUst Get Out of Him

September 20th, 2006 by sella-cute

Now…..Puput is back……….

No more sadness…………..

No more regret…………….

SEpHi

September 18th, 2006 by sella-cute

Siang, tgl. 19 Agustus 2006, at. Kamar tante jane manado

Sepi, itu yg uput rasain sekarang…Uput dah kangen jakarta kangen banget ma kamar tercintha, kangen ma Atma, kangen ma Pl, kangen ma mang sukri, kangen ma dewe, deon, sevin, Andra,dwi, tri brisik, all my friend di HIMA, pa kabar bro..

Manado, kata orang Asyik n menarik….iya seh aslinya menarik..cuma kalo hatinya lagi gak disini jadi gak menarik, gak ada keren kerennya sama sekali..Untuk saat ini yg lebih menarik..WARNET ma WARTEL..wat uput….

Apa kabarnya jakarta? apa kabarnya si Jelek yang bikin kangen, apa kabar dunia…Uput mumet banget..fikiran buntu, Ziggy lagi apa yah???? epon uput dunk..kangen neh….

Bikin blog jadi aneh, bentar lagi dah masuk bulan baik, hari baik, ramadhan dah didepan mata …ngomong soal ramadhan inget ma mba dita, pa kabar ibu yg bawel itu..kekekek. Mba gyta apa kabarnya yah..dah hampir 1 bulan gak denger kabarnya, terakhir denger lagi di ICU, semoga dya baik baik aja…..kangen gw ma mba gyta, a amir pa kabar, marmut gimana dengan dian sostronya, anak anak SPC….dah lama gw gak nyapa anak anak gamer. Buat semua deh..met menjalankan ibadah puasa…semoga kita diberi ketabahan, kemudahan, dijadikan orng orang yg bersih..amin….

Dummmmmmmmmmmmmmmpppppppp

September 15th, 2006 by sella-cute

Ada hati yang tak mau memberi………….

mampus kau di koyak koyak sepi…..

mET Jalan Oma Terchinta…..

September 11th, 2006 by sella-cute

Kamis, 7 September 2006

Kejadian sebelumnya.–pagi pagi bangun tidur siap siap ke kampuz wat kuliah seperti biasa, uput dah feeling gak enak dari malem, tapi maksain wat kuliah juga karena ada presentasi Akuntansi Biaya. beberes, nyiapin buku, minta tolong sopir mamah wat nganterin ke kampuz….sebelumnya sempet sms-an ma seseorang n epon juga ma dita say hai gitu. Ampe kampus baru separo pelajaran tiba tiba disamperin orang rektorat bilang gw diizinin pulang cous oma sakit trus di ICU, emmmm…kayanya ada yg gak beres, gw sempet sms beib wat ngasih tau kalo gw otw ke manado. Perjalanan kampuz bandara…dilewati dengan ber manyun ria, karena sudah ada janji dengan seseorang buat kencan…hik..hik..hik….

Tiba di Manado, dijemput om jimmy ma tante sheren, kok mereka ngomong pake bahasa Manado, trus nyokap sempet nyindir nama gw….ada apakah ini….pas belok ke jalan utama rumah oma kok ada yg gak beres….wakkkkkkkkkkkkkkkk—-tanda tanda duka??…..baru keluar mobil mama langsung nyamperin, bilang, putri cayang, oma dah dipanggil Tuhan, tadi pagi jam 5. Tenggggggggg….dunia gelap, bumi goncang gancing, langit runtuh,::::::gw tepar::::::, gak inget apa apa, pas sadar dah dikamar , yg ada cuma nangis, oma put cayang oma—–kok jahat sehhhhh..gw gak dikasih tau….puput —->>>> pasang muka sedih<——-

seluruh keluarga besar kumpul, yg lucunya gw gak kenal ma mereka, gw cuma yg pasang muka komik, say hai…sebel banget dibilang ini putri yg waktu itu masih kecil kan, pake celana doang, —untung celana bukan daon pisang..kekekekek—

acara penguburan hari jumat depan tgl 15, oma cantik banget pake baju kesayangan, ma bawa bawa alat wat ngerajutnya, oma kaya mau ke gereja,…asli cantik..om pras ma oma jua baru dateng hari selasa dari Belanda, mereka kakak beradik dengan oma. hehehehehe…disini kaya jaman kumpeni..uput gak ngerti bahasanya….tau bahas belanda tapi cuma bahasa percintaan doang..hihihi….

Tiap hari disini kangen terus ma seseorang, semoga dya kangen juga ma uput, ada kesempatan pasti put kasih kabar, hunnnnn……………Luph U sooooo………nahloh;)) dah gak jomlo neh, berusaha wat bikin nyaman….

Terakhir : wat Oma…

Oma put sayang oma, mungkin uput beda dengan cucu cucu oma lainnya, karena cuma uput yg muslim, perhatian n cinta kasih uput gak bisa dilihat dari materi, dihati uput oma adalah eyang uput yg uput sayang. Uput janji cepet kelarin kuliah, seperti yg oma harapkan, walau nanti pas wisuda oma gak bisa lagi nemenin uput, tapi uput yakin oma tetep ada di sisi… Tuhan berilah oma tempat yg layak di sisi Mu, amin…..